Skip to main content

Indrosari, Desa Kecil di Kabupaten Kebumen yang memilik tradisi unik Gerobak pada hari Raya Idul Fitri (H+1)

Indrosari merupakan salah satu desa di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen. Kantor Kepala Desa beralamat di Jl. Jend. HM. Sarbini Km 05 Indrosari, Buluspesantren, Kebumen, Jawa Tengah, Kode Pos 54391. Kepala Desa saat ini (27 September 2015) dijabat oleh Bapak Muh. Muslih, S.Sos.I. Indrosari terdiri dari 3 Dukuh yang terpisah oleh sawah yaitu Banjaran, Remang dan Karangreja. Sebagian besar wilayah desa Indrosari merupakan Sawah. Komoditas yang diandalkan masyarakat di sini yaitu Padi. Katanya sih, beras di sini memiliki rasa yang khas, lebih manis dari daerah lain. Desa ini dulu sering terjadi Banjir terutama dukuh Banjaran (konon Banjaran berasal dari Kata Banjiran/Sering terkena Banjir).
indrosari
Indrosari memiliki 2 bangunan tua yang khas yaitu  Brug Tua / Jembatan dan Rumah Tua. Brug tua ini berlokasi di Dukuh Banjaran (konon dibangun pada Masa Penjajahan). Sungai yang berada di Brug ini terkenal banyak Ikan air tawarnya, seperti Ikan Bayong (sebutan warga sekitar) atau Ikan Gabus (Bahasa Indonesia), Ikan Lele, Ikan Sepat, Ikan Bethik, Ikan Ceba, dll. Maka tak heran jika musim Penghujan banyak Pemancing dari desa lain, bahkan dari Kecamatan lain berdatangan memancing di sini (sumber : warga Kutowinangun). Untuk Rumah Tua berada di Dukuh Remang (konon rumah ini pernah untuk singgah sang Jendral H.M. Sarbini). Maka tak heran jika jalan dari Pasar Hewan Kebumen sampai desa Indrosari diberi nama Jl. H.M. Sarbini. Bangunan rumah ini berbentuk Joglo dengan halaman yang luas dan dipagar tembok .

Desa Indrosari memiliki tradisi unik pada perayaan Hari Raya Idul Fitri yaitu tradisi Gerobakan. Tradisi ini dilakukan sampai sekarang (Lebaran Tahun 2015) masih dilakukan di Indrosari Bagian utara (Dukuh Banjaran). Sebenarnya tradisi ini juga dilakukan desa sekitar meliputi Desa Ampih, Jogopaten, Klapasawit, Arjowinangun, dan Sangubanyu. Tradisi ini dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri (tepatnya H+1) yaitu pergi ke Pantai Setrojenar dengan menaiki kereta berkuda (Gerobag : dalam bahasa Jawa). Gerobag ini ditarik kudan dan dihias dengan ornamen (rontek, gambar dan tulisan). Untuk menambah kemeriahan tradisi ini dilengkapi dengan Sound System (Horn/Speaker). Rute yang dilalui melewati Desa Ampih, Jogopaten, Klapasawit, Arjowinangun, Sangubanyu, Bocor dan Setrojenar. Jalan yang dilewati sekitar 8 km. Tradisi ini dimulai atau berangkat sekitar pukul 08.00 WIB s/d 11.00 WIB dilanjutkan ke Pantai Setrojenar dan pulang menuju Indrosari sekitar pukul 15.00 WIB s/d 18.00 WIB. (Bagi anda yang ingin menyaksikan Tradisi ini bisa datang di sepanjang Rute yang dilewati dan pada H+1 Idul Fitri serta jam tersebut).

Desa Indrosari juga memiliki tradisi unik yang lain yaitu Tongun. Tongun adalah tradisi berdoa bersama warga satu Kampung dimulai dari Masjid Baitul Muttaqin (Masjid Dukuh Banjaran) berjalan mengelilingi Kampung dan berhenti untuk berdoa di tempat yang dianggap Keramat dan terakhir selesai di Pemakaman Dukuh Banjarn. Dilaksanakan setiap malam tanggal 1-10 Muharram dan terakhir tanggal 10 Muharram diadakan Tahlil di Masijid dan makan bersama warga satu Kampung. (Jaman saya kecil, sekitar Tahun 2005 ketika berkeliling memakai Obor (Oncor : dalam Bahasa Jawa)

Mohon dikoreksi tentang Desa Indrosari dan kirimkan ke nurohman5sari@gmail.com ! (sumber : Penulis)

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Makan Asli Kutowinangun Kebumen, menjual Jadah, Wajik, Jenang, Krasikan dan Jajanan Tradisional Khas Kebumen

Warung Asli, merupakan warung makan yang telah berdiri Tahun 1921, berada di Pusat Kecamatan Kutowinangun, Kebumen atau tepatnya di    Jl. Raya Kutowinangun No. 126, Kebumen, Jawa Tengah atau sebelah Barat Pasar Kutowinangun Kebumen (Jalur Selatan Jawa). Warung Makan ini buka 24 Jam Nonstop. Warung Makan Asli ada 2 di Kutowinangun, jarak keduanya tidak terlalu jauh.  Warung makan ini berbeda dari rumah makan yang lain, karena di sini menjual berbagai Makanan Tradisional Kebumen diantaranya Jenang Gula Jawa (Dodol), Wajik, Jadah (Tetel), Kue Cucur, Krasikan, Onde-onde, Lanthing, dll. Menu makan di warung ini juga khas kampung di antaranya Nasi Rames (Campur), Nasi Sop, Nasi Pecel, dll. Harga makanan di sini cukup terjangkau, sehingga tak mengherankan jika selalu ramai setiap hari. Di depan Warung Makan ini juga banyak terdapat orang jualan Sate Ambal (Sate Khas Kebumen). 

Klapasawit, desa di Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen

Klapasawit merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen. Kantor Balai Desanya berada di Jalan Kedungbener. Desa Klapasawit memiliki 3 Sekolah Dasar yaitu SD Negeri 1 Klapasawit, SD Negeri 2 Klapasawit dan SD Negeri 3 Klapasawit. Klapasawit memiliki Pasar Desa yang cukup besar untuk wilayah Kecamatan Buluspesantren. Pasar Desa Klapasawit sering disebut "PASAR SILUMBU". Sampai saat ini (Tahun 2016), bangunan Pasar Silumbu merupakan bangunan peningggalan Belanda. Pasar ini digunakan untuk kegiatan jual beli warga Klapasawit, Jogopaten, Sangubanyu, Gesikan, Mengkowo, Arjowinangun, Indrosari dan Ampih. Hari pasarannya pada Hari Senin, Kamis, dan Sabtu. Di sini masih terdapat jajanan tradisional yang dijual diantaranya "gethuk lindri, jenang candhil, pecel", dll. Di sebelah selatan Pasar Desa Klapasawit ada Sate Ayam Ambal yang cukup terkenal khususnya bagi warga Klapasawit, Arjowinangun, Buluspesantren, Sangubanyu, Indrosar...

Rantewringin, terkenal akan kerajinan Sabut Kelapa.

Rantewringin merupakan sebuah desa di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen. Rantewringin berada sekitar 8 kilometer selatan pusat kota Kebumen. Desa Rantewringin merupakan pusat kerajinan sabut kelapa terbesar di Kebumen dan merupakan percontohan produk UMKM Jawa Tengah. Usaha sabut kelapa di desa ini sudah berdiri sejak Tahun 1991. Beberapa produk hasil kerajinan sabut kelapa ini diantaranya Keset, Karpet, Tambang, Matras Olahraga, dll. Keset buatan desa Rantewringin sudah lama terkenal, bahkan sudah dipasok ke berbagai Hotel, Kantor, BUMN, dll. Pemasarannya tidak hanya di Kebumen atau Jawa Tengah saja namun juga sudah sampai Yogyakarta, Jakarta, Surabaya. Bila suatu saat kita masuk kantor atau hotel, lalu kita menginjak keset dari sabut kelapa bertuliskan "WELCOME", mungkin saja itu hasil kerjinan keset dari Desa Rantewringin, Buluspesantren, Kebumen. Rantewringin juga memiliki pasar tradisional, biasanya orang menyebutnya "Pasar Warung Pring" atau ...